Tuesday, 2 May 2017

DENGAN ILMU KITA MENUJU KEMULIAAN


Republika, 2 May 2017


Mendekati 72 tahun Indonesia merdeka, kalimat yang pernah didengungkan Ki Hajar Dewantara rasanya masih sangat menggelitik hati. Bapak Pendidikan Indonesia itu telah mengingatkan kepada kita semua bahwa untuk meraih kemuliaan sebuah bangsa hanya dapat dilakukan dengan memperkaya ilmu dan meningkatan mutu pendidikan. Pertanyaan pun muncul bagaimana dengan potret pendidikan Indonesia sekarang?

Pertanyaan semacam itu tampaknya sudah menjadi template setiap kali Indonesia memeringati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei. Walau sudah berulang kali disampaikan, sayangnya setiap tahun pula kita melihat fakta bahwa kualitas mutu pendidikan Indonesia masih belum bisa move on dari fakta-fakta minor.

Data Indeks Pendidikan UNESCO 2016 menunjukkan bahwa saat ini Indonesia berada di posisi 108 dunia dengan skor 0,603. Secara umum, data itu menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Data itu juga memperlihatkan bahwa hanya ada sebanyak 44 persen penduduk Indonesia yang menuntaskan pendidikan menengah. Sementara, 11 persen murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah sebelum dinyatakan lulus (DW, 2017).

Dalam analisis Laporan Pembangunan Manusia 2016, Badan PBB Urusan Pembangunan (UNDP) memperlihatkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (IPM) ternyata mengalami penurunan 18,2 persen dibanding tahun sebelumnya bila memperhitungkan indikator kesenjangan pendidikan dan harapan hidup saat lahir di Indonesia.

Lantas mengapa potret pendidikan negeri ini tak mampu melakukan rebound dalam urusan kualitas? Salah satu faktor penghambatnya adalah jumlah tenaga pengajar negeri ini yang masih kurang diperhatikan. Utamanya, tenaga pengajar di level pendidikan tinggi. Mengutip berita dari laman Tirto (Maret, 2017), di Indonesia sekarang ini memiliki 134 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 4.225 perguruan tinggi swasta dengan jumlah dosen total mencapai 230.633 orang. Dari jumlah tersebut, tenaga pengajar berstatus lulusan S-1 (strata-1) ada sekitar 53.031 orang (22,99 persen). Sedangkan untuk tingkat S2 sekitar 134.522 (58,33 persen), dan S3 baru ada 26.199 (11,36 persen).

Khusus jumlah tenaga pengajar bergelar doktor di Indonesia ini ternyata mengalami pertumbuhan yang sangat lambat. Sepanjang rentang waktu lima tahun terakhir, jumlah tenaga pengajar bergelar doktor ini tak lebih dari 10 persen. Angka tersebut masih di bawah target 20 persen yang dicanangkan oleh pemerintah.

Lalu jika dikomparasi, dari setiap satu juta penduduk di Indonesia ternyata hanya ada 143 penduduk bergelar doktor. Perbandingan itu sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang berada di kawasan Asia. Malaysia bahkan sudah sulit ditandingi oleh Indonesia. Padahal, negeri Jiran itu pada dekade 1980-an sangat banyak mengirimkan para pelajarnya untuk menimba ilmu di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Kini, Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Rasio doktor di Malaysia saat ini adalah dari satu juta penduduknya terdapat 509 doktor. Sementara India, negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia, memiliki komparasi 1.410 doktor dalam setiap satu juta penduduknya. Dari komparasi itu terlihat Indonesia masih belum terlalu serius untuk meningkatkan mutu dan kompotensi para pengajar di level perguruan tinggi.

Permasalahan lain yang membuat sektor pendidikan di Indonesia ini tak kunjung membaik berkaitan juga dengan pemerataan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Hingga kini, institusi pendidikan terbaik masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi ini memang tak bisa disalahkan karena sepanjang Indonesia merdeka, fokus pembangunan masih bersifat Jawasentris.

Di masa mendatang, masalah pemerataan kualitas pendidikan ini harus lebih difokuskan dan dicarikan solusi terbaiknya. Lembaga-lembaga institusi pendidikan di Jawa mungkin bisa didorong untuk melakukan riset-riset unggulan dengan melibatkan perguruan tinggi di luar Jawa. Model sinergi semacam ini bisa direalisasikan dengan melakukan riset di luar Jawa. Harapannya, dengan kolaborasi riset semacam ini akan semakin mempercepat akselerasi peningkatan mutu tenaga pengajar maupun mutu pendidikan di daerah.

Sementara itu, pemerintah sudah sepatutnya untuk lebih konsisten menjalankan amanat konstitusi UUD 1945, terutama dalam pengalokasian 20 persen dana pendidikan yang berasal dari APBN. 
Sejauh ini, jumlah anggaran terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, anggaran pendidikan pada tahun anggaran 2014 mencapai Rp 371,2 triliun. Setelah itu, secara berturut-turut, nominalnya meningkat menjadi Rp 404 triliun (2015) dan Rp 419,2 triliun (2016). Namun pada tahun ini jumlah anggaran pendidikan menurun menjadi Rp 416,1 triliun.

Alokasi anggaran pendidikan itu sejauh ini dilakukan melalui tiga jalur. Pertama, melalui belanja pemerintah pusat. Penggunannya digunakan antara lain untuk penyediaan beasiswa untuk siswa/mahasiswa kurang mampu, rehabilitasi ruang kelas, pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas baru serta pembangunan prasarana pendukung dan pemberian tunjangan profesi guru.

Kedua, melalui transfer ke daerah antara lain untuk gaji pendidik, tambahan penghasilan guru pegawai negeri sipil daerah, dan bantuan operasional sekolah (BOS). Ketiga, melalui pengeluaran pembiayaan yang disebut Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang terdiri atas dana abadi pendidikan dan dana cadangan pendidikan. 

Terlepas dari mekanisme pengalokasian anggaran tadi, kita semua harus tetap mencermati apakah sistem pendidikan nasional sebagaimana amanat UU telah terlaksana dengan baik? Untuk mengetahuinya, kita bisa mengacu kepada hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap sejumlah indikator pendidikan pada kurun waktu 2014 hingga 2016. Salah satunya pada angka partisipasi kasar (APK).

APK untuk SD/MI meningkat pada 2014 (108,78) dan 2015 (109,94), namun menurun setahun kemudian (2016 109,20). APK SMP/MTs juga menunjukkan peningkatan dan penurunan yang sama dengan APK SD/MI (2014 88,43, 2015 90,63, dan 2016 89,98). Kemudian APK SMA/MA terus meningkat pada kurun waktu tersebut (2014 73,95, 2015 77,39, dan 2016 80,44). Sementara APK perguruan tinggi 2015 (20,89) menurun dari 2014 (25,76), akan tetapi meningkat kembali pada 2016 (23,44).

APK ini merupakan indikator yang kerap digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan. Namun demikian sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah, terutama di bidang pendidikan dasar yang meliputi tingkat SD/MI. Nominal 109,20 persen per 2016 menunjukkan masih ada 9,20 persen dari penduduk yang tidak berusia 7-12 tahun bersekolah di SD/MI. Jumlah ini tentunya tidak sedikit.

Jadi, dengan segala ragam persoalan yang masih membelit dunia pendidikan negeri ini maka sudah sepatutnya semua pihak bisa saling bersinergi untuk memperbaiki masalah. Mindset sektoral sudah saatnya dipupus untuk membawa negeri ini menuju arah yang lebih baik. Untuk menggapainya, rasanya sektor pendidikan itu harus dibenahi oleh kita semua.

Tuesday, 17 January 2017

MERAWAT INDONESIA



Republika, 17 January 2017


Dalam beberapa waktu terakhir, kegaduhan politik yang terjadi di negeri ini begitu menyesakkan ruang publik. Dalam kegaduhan itu, banyak pihak yang mulai mempertanyakan kelangsungan kebinekaan maupun toleransi dalam kehidupan berbangsa. Tapi benarkah persoalan kebinekaan dan toleransi di negeri ini sedang mengalami krisis?

Sebelum menelaah situasi krisis tersebut, perlu dipahami bahwa kegaduhan ini sesungguhnya buah dari demokrasi yang tengah diagungkan di negeri ini. Pada masa sekarang, siapa saja bisa bersuara secara bebas dan terbuka di ruang publik. Tak sedikit juga, kebebasan dan keterbukaan itu mengevaluasi maupun mengkritik kebijakan para pemimpin yang tengah berkuasa. Lalu ditambah dengan semakin luasnya jangkauan akses internet di negeri ini, perang opini melalui udara untuk saling memengaruhi semakin berserakan. Hasilnya, seperti yang sudah kita rasakan saat ini, yakni politik gaduh.

Lantas salahkah dengan demokrasi yang tengah diagungkan di negeri ini? Fareed Zakaria, seorang kolumnis ternama kelahiran India sekaligus juga penyandang gelar PhD dari Harvard University, pernah melakukan sejumlah riset terhadap negara-negara yang menjalankan demokrasi. Dalam riset tersebut, ia mengukur indikator income per kapita sebagai salah satu parameter bagi keberhasilan tegaknya demokrasi di sebuah negara.

Ia berasumsi bahwa salah satu faktor utama untuk keberhasilan demokrasi adalah minimal income per kapita sebuah negara itu sebesar 6000 dolar AS. Sementara Indonesia ketika memasuki era demokratisasi baru memiliki income per kapita 3.000 dolar AS. Artinya, dari salah satu parameter tersebut terlihat bahwa Indonesia masih belum cukup siap untuk menjalankan demokrasi.

Lalu apa implikasi dari ketidaksiapan tersebut? Salah satu contoh yang paling telanjang bisa kita saksikan dalam setiap kali penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu). Pada masa Orde Baru, upaya membeli suara atau praktik money politic masih dilakukan secara tersembunyi. Sementara pada era reformasi semuanya menjadi begitu telanjang. Tak ada lagi rasa malu untuk menolak praktik money politic. Bahkan slogan-slogan "Ambil Uangnya, Jangan Pilih Orangnya" menjadi ajakan yang justru disuarakan oleh banyak tokoh publik. Inilah sebuah bentuk kesesatan berpikir dan bersikap yang ditumbuhkan di negeri ini.

Konsekuensi dari sikap yang begitu permisif terhadap praktik money politicdalam setiap penyelenggaraan pemilu maka lahirlah pemimpin-pemimpin bermodal besar atau disokong para pemilik modal. Artinya, proses pengalihan kekuasaan itu hanya bermuara kepada kelompok-kelompok berkapitalisasi melimpah saja. Sementara mereka yang memiliki cakap kemampuan memimpin serta punya keberpihakan kepada publik, tapi tidak disokong para kaum kapitalis maka akan sangat sulit untuk menemukan mereka berada di dalam lingkar kekuasaan.

Itulah yang terjadi pada masa sekarang. Dan sudah menjadi rahasia umum, siapa pun yang hendak bertarung di medan politik praktis dibutuhkan gelontoran dana segar yang besar. Padahal, jika kita gunakan rujukan pada sila keempat di dalam Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan" maka sesungguhnya fenomena politik yang terjadi di negeri ini sudah sangat menyimpang dari filosofi dasar bangsa. Dan sangat disayangkan, kita semua seakan mengacuhkan, bahkan mengabaikan Pancasila tersebut untuk dijadikan pijakan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sehingga tidak heran ketika eksistensi kebinekaan dan toleransi itu kembali dipertanyakan maka sesungguhnya kita sedang menggugat juga hadirnya demokrasi itu sendiri di negeri ini. Bukankah kebinekaan dan toleransi itu merupakan bagian dari butir-butir di dalam Pancasila? Dalam sila pertama, misalnya, sesungguhnya telah terkandung makna bahwa kita harus bisa saling hormat-menghormati, bekerja sama antarpemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup. Begitu juga dalam butir sila kedua Pancasila yang mengembangkan nilai untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan sikap tenggang rasa.

Lalu jika melihat muara dari kegaduhan politik yang terjadi belakangan ini, sesungguhnya semua itu berasal dari pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang begitu enteng dalam menistakan keyakinan sekelompok umat beragama di negeri ini. Bukankah sikap yang ditunjukkan oleh pemimpin semacam itu sesungguhnya sebuah bentuk penistaan juga terhadap Pancasila? Lalu masih pantaskah ketika sekelompok besar umat beragama itu beraksi maka ditempelkanlah stigma bahwa mereka bersikap intoleransi dan antikebinekaan?

Dalam ruang yang terbatas ini, penulis hanya ingin menyimpulkan bahwa gugatan-gugatan terhadap kebinekaan maupun toleransi yang selama ini ditempatkan untuk mendukung Ahok adalah bentuk kekeliruan. Penulis percaya, demokrasi itu akan bisa membawa kebaikan. Tapi seperti yang disampaikan oleh Fareed Zakaria, rasanya masih banyak 'pekerjaan rumah' yang harus terus diperbaiki kalau Indonesia ingin menjadi negara yang menjalankan sistem demokrasi. Dan untuk menuju tahapan besar tersebut, tentunya janganlah kita abaikan Pancasila sebagai pondasi kehidupan berbangsa di negeri ini. Karena ketika Pancasila itu tak lagi dijadikan rujukan maka disanalah kita akan bertanya dalam getir; masih adakah Indonesia?

Saturday, 31 December 2016

List of Presentations 2016

No
Topik
Keterangan
1.                 


2.                 
Sinkronisasi RKPD dengan Renstra SKPD dan RPJMD
Dialog Rektor dengan Bappeda Kabupaten Wajo-Sulawesi Selatan @Mercure Hotel-Jakarta, 8 Januari 2016
3.                 

4.                 
Strategi Percepatan Pembangunan berbasis Sistem
Launching E_Planning & PPAS Online Kota Padang @Pangeran Beach Hotel-Padang, 19 Januari 2016
5.                 
Peran dan Fungsi DPRD dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Sumbawa NTB @Ibis Mangga Dua Hotel-Jakarta, 27 Januari 2016
6.                 
Peran dan Fungsi DPRD dalam Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Tojo Una-Una, Sulteng @Mercure Hotel-Jakarta, 28 Januari 2016
7.                 
Kebijakan Pembangunan Daerah dalam Konstruksi Nawacita serta Peran dan Posisi Pimpinan SKPD dalam Perencanaan dan Percepatan Pembangunan Daerah
Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi @Golden Flower Hotel-Bandung, 3 Februari 2016
8.                 
Penyusunan RPJMD, Renstra SKPD, dan Penetapan IKU
Dialog Rektor dengan Pemda Kota Sawah Lunto-Sumatera Barat @Grand Zuri Hotel-Padang, 12 Februari 2016
9.                 

10.              

11.              
Peran dan Fungsi DPRD dalam Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Serang @Santika Hotel-Jakarta, 5 Maret 2016
12.              
Penguatan Pertumbuhan Investasi dalam rangka Pembangunan Daerah
Musrenbang RKPD Kota Pangkalpinang Tahun 2017 @Edotel Hotel-Kota Pangkalpinang, 8 Maret 2016
13.              
Perencanaan Pembangunan dengan Pendekatan Politik Berorientasi pada Kepentingan Rakyat
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Sikka-NTT @Lynt Hotel-Jakarta, 16 Maret 2016
14.              
Mekanisme Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Pangandaran @Cemerlang Hotel-Bandung, 29 Maret 2016
15.              
Inovasi Pelayanan Publik berbasis Teknologi Informasi
Seminar One Agency One Innovation Pemda Kota Padang @Grand Inna Hotel-Padang, 5 April 2016
16.              
Optimalisasi Otonomi Daerah: Kebijakan, Strategi dan Upaya
Program Doktor Bidang Ilmu Sosial @Universitas Pasundan-Bandung, 1 April 2016
17.              
Peran Tenaga Ahli DPRD dalam Perumusan Kebijakan Publik guna Mendukung Fungsi Pengawasan, Penganggaran dan Legislasi
Dialog Rektor dengan Tenaga Ahli DPRD Kabupaten Merauke @Losari Roxy Hotel-Jakarta, 4 April 2016
18.              
Tugas Pokok dan Wewenang Badan Kehormatan sebagai Alat Kelengkapan DPRD dalam Menjaga Martabat dan Kehormatan Anggota DPRD berdasarkan Kode Etik DPRD
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Sumba Timur @Wilton Hotel-Surabaya, 8 April 2016
19.              
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Belitung @Travellers Hotel-Jakarta, 6 April 2016
20.              
Mekanisme Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Tasikmalaya @Gumilang Regency Hotel-Bandung, 7 April 2016
21.              
Administrasi Pembangunan di Indonesia Perencanaan, Penganggaran, dan Pengawasan
Program Doktor Bidang Ilmu Sosial Universitas Pasundan, Bandung, 16 April 2016
22.              
Inovasi Perencanaan dalam rangka Akselerasi Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan Bappeda Kabupaten Donggala @Kampus Unsada-Jakarta, 21 April 2016
23.              
Karawang yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur pada 2021
Plenary Discussion Musrenbang RPJMD Kabupaten Karawang @Swiss-Belinn Karawang, 3 Mei 2016
24.              

25.              
Optimalisasi Fungsi dan Tata Cara  Pengawasan DPRD atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Buleleng @Santika Hotel-Jakarta, 20 Mei 2016
26.              
Peran DPRD dalam Penyusunan RPJPD, RPJMD, dan Renstra SKPD
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Pangandaran @Verona Hotel-Bandung, 24 Mei 2016
27.              
Strategi Percepatan Pembangunan Daerah dalam Penyusunan RPJPD, RPJMD, dan RKPD
Dialog Rektor dengan Bappeda Kabupaten Rokan Hilir @Grand Cokro Hotel-Bandung, 23 Juni 2016
28.              
Pokok-pokok Pikiran Anggota DPRD dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Provinsi Bangka Belitung @Balairung Hotel-Jakarta, 22 Juni 2016
29.              
Peningkatan Kompetensi dan Etos Kerja Pengawasan DPRD dalam Menilai dan Mengawasi Kinerja Pemerintahan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Cianjur @Puri Setiabudi Hotel-Bandung, 24 Mei 2016
30.              
Peranan DPRD dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Barru @Ibis Mangga Dua Hotel-Jakarta, 25 Mei 2016
31.              
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional: Peraturan Presiden No 2/2015
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Banjar-Kalsel @Ibis Mangga Dua Hotel-Jakarta, 27 Mei 2016
32.              
Penyusunan Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Pesisir Selatan @The Axana Hotel-Padang, 2 Juni 2016
33.              

34.              

35.              
Peningkatan Peran Komisi dan Badan pada Alat Kelengkapan DPRD dalam Perspektif Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kota Depok @Aston Marina Ancol Hotel-Jakarta, 8 Juni 2016
36.              
Dampak MEA terhadap Rencana Strategis Nasional di Jawa Barat
Dialog Rektor dgn Forum Mitra Strategis Bakesbangpol se Jawa Barat @Marbella Suites Hotel-Bandung, 29 Juli 2016
37.              
Manajemen Pedoman Monitoring dan Evaluasi dalam Kegiatan Perumahan Swadaya
Workshop Monev Kebijakan Rumah Swadaya Kementerian PUPR @Falatehan Hotel-Jakarta, 9 Agustus 2016
38.              

39.              

40.              
Menakar Implementasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Hubungan Pusat dan Daerah. Perlukah kembali ke GBHN?
Seminar Nasional Fraksi Partai Demokrat MPR-RI @Kartika Chandra Hotel-Jakarta, 7 September 2016
41.              

42.              
Inovasi Pelayanan Publik berbasis Teknologi Informasi
Dialog Rektor dengan Pemda Kabupaten Kotabaru @Merlynn Park Hotel-Jakarta, 15 September 2016
43.              
Membangun Sistem Monitoring dan Evaluasi di Lingkungan Sekretariat Daerah
Dialog Rektor dengan Sekretariat Daerah Kabupaten Rokan Hilir @Savana Hotel-Malang, 23 September 2016
44.              
Menyusun Indikator Kinerja Pembangunan
Dialog Rektor dengan Sekretariat Daerah Kabupaten Rokan Hilir @Savana Hotel-Malang, 23 September 2016
45.              
Percepatan Penyerapan Anggaran Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Cianjur @Amaroossa Hotel-Bandung, 28 September 2016
46.            

47.              

48.              
Penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD
Dialog Rektor dengan DPRD Kota Manado @Bedrock Kuta Bali Hotel-Denpasar, 7 Oktober 2016
49.              
Eksistensi Kelembagaan Penanaman Modal dalam Meningkatkan Investasi di Indonesia
Forum Ekonomi Nusantara Expo Ditjen Polpum Kemendagri @TMII-Jakarta, 20 Oktober 2016
50.              
Pengintegrasian BSC di Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR
Diskusi Manajemen Kinerja dengan Sekretariat Jenderal DPR-RI @Gedung Setjen DPR-RI, 24 Oktober 2016
51.              
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Sikka-NTT @Fave Hotel-Jakarta, 29 Oktober 2016
52.              

53.              
Sinergi Kebijakan Anggaran dan Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Buol-Sulteng @Mercure Hotel-Jakarta, 17 November 2016
54.              

55.              

56.              
Peranan DPRD dalam Percepatan Pembangunan Daerah
Dialog Rektor dengan DPRD Kabupaten Ende @Treva Internasional Hotel-Jakarta, 9 Desember 2016
57.              


58.              
Administrasi Pembangunan di Indonesia: Perencanaan, Penganggaran, dan Pengawasan
Program Doktor Bidang Ilmu Sosial Universitas Pasundan Bandung, 17 Desember 2016
59.              


60.              

61.              
Optimalisasi Otonomi Daerah: Kebijakan, Strategi dan Upaya
Program Doktor Bidang Ilmu Sosial @Universitas Pasundan-Bandung, 24 Desember 2016
62.              
Pengembangan Fungsional Perencana di Indonesia
Dialog Rektor dengan Bappeda Kabupaten Karawang @Villa Sari Alam Ciater-Subang, 27 Desember 2016
63.